Lalu biaya apa saja yang akan timbul jika saya mau beli rumah?
Layaknya jual beli barang yang legal, jual beli rumah akan memunculkan biaya lain di luar harga rumah itu sendiri. Karena rumah adalah properti yang diakui negara, dicatat kepemilikannya, oleh karenanya menjadi aset yang bernilai. Apalagi jika anda membeli dengan layanan KPR. Biaya yang akan muncul akan ditemui dua pihak. Baik penjual maupun pembeli sama-sama akan kena biaya atau pajak. Jenis dan nilai yang mereka tanggung berbeda. Sebagai pembeli, anda akan menanggung lebih banyak jenis biaya atau pajak.

Pertama, biaya cek sertifikat. Sebagai properti yang kepemilikannya dicatat negara, maka diterbitkan sertifikat bukti kepemilikan atas sebuah tanah/rumah. Namun, dalam beberapa kasus, ada sertifikat yang palsu. Untuk itu, sertifikat ini perlu diperiksa keasliannya. Juga siapa sebenarnya yang pemiliknya. Selain itu juga perlu dicek apa jenis sertifikat tanah di mana rumah itu berdiri, dan luas tanahnya. Sertifikat ini dicek di kantor Badan Pertanahan Negara (BPN). Biaya pemeriksaan ini di kisaran ratusan ribu rupiah. Anda juga bisa memeriksa sendiri sertifikat ini lewat layanan online BPN.

Kedua, Biaya Perolehan Hak atas Tanah/Bangunan (BPHTB). Jual beli adalah peralihan hak milik sesuatu dari tangan penjual ke tangan pembeli. Dalam jual beli tanah/bangunan, pembeli adalah pihak yang memperoleh hak atas tanah/bangunan. Negara memungut biaya atas perolehan ini. Penjelasan BPHTB selengkapnya bisa anda baca di sini.

Ketiga, Biaya pembuatan Akta Jual Beli (AJB). Sebuah jual beli diikat dalam akta. Nah, Notaris adalah pembuat akta yang sah. Sebagai jasanya, mereka menerima honor yang dibayarkan oleh pembeli. Nah, pemerintah mengatur besarnya honor ini. Menurut pasal 36 Undang-undang nomor 30 tahun 2004 tentang Jabatan Notaris, besarnya honor itu tergantung nilai harga tanah/rumah.

Untuk nilai transaksi kurang dari Rp100 juta, honornya 2,5 persen. Sedangkan jika harga rumahnya antara Rp100 juta hingga Rp1 miliar, notaris bisa menerima honor 1,5 persen. Apabila jual belinya senilai lebih dari Rp1 miliar, maka notaris bisa menerima fee sebesar 1 persen.

Keempat, Biaya Balik Nama (BBN). Jika pemilik rumah berganti, mana nama yang ada dalam sertifikat juga akan diganti. Proses ini disebut balik nama dan ada biayanya. Jika anda membeli rumah dari pengembang, biasanya mereka yang mengurus proses ini. Namun jika anda membeli rumah secara perorangan, maka anda bisa mengurusnya sendiri atau minta jasa notaris untuk menuntaskannya. Umumnya nilai BBN sebesar 2 persen dari nilai transaksi.

Kelima, Pajak Pertambahan Nilai (PPN). Sebagai properti yang bernilai, maka pembeli juga dikenakan pajak ini. Persentasenya lumayan besar, 10 persen. Jika anda membeli properti senilai Rp1 miliar, maka bisa kena PPN Rp100 juta. Jika membeli rumah dari pengembang, umumnya mereka sudah memasukkan ini ke dalam harga jual rumah.

Jika anda membeli dengan cara KPR, maka akan ada biaya lain di luar lima biaya di atas. Misalnya biaya KPR, asuransi rumah dan sebagainya. Tambahan biaya ini perlu jadi catatan anda sebelum membeli rumah. Jika sudah siap dan cukup, silakan berburu rumah.