Corona Virus Disease 19 (COVID-19) sedang mewabah di Indonesia. Pemerintah mewaspadainya dengan melarang kegiatan pengumpulan massa. Mobilitas penduduk dikurangi dengan social distancing hingga physical distancing. Bahkan, acara tahunan mudik Lebaran tahun ini tidak dianjurkan oleh pemerintah di daerah yang termasuk dalam pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Para pekerja kantoran diimbau untuk kerja dari rumah alias work from home. Mereka bisa melakukan kerja dari rumah dengan layanan digital. Sebagai agen properti, jelas kebijakan ini sangat mempengaruhi kegiatan pemasaran. Apalagi, listing yang dipasang jelas membutuhkan bertemu fisik hingga cek ke lokasi properti.

Tapi, jangan berhenti di tengah badai. Jika orang ramai-ramai bisa work from home, para agen tentunya juga bisa melakukan pemasaran dari rumah dengan bantuan layanan digital.

Saat ini, banyak kanal digital atau aplikasi untuk kegiatan pemasaran, utamanya pemasaran properti. Entah itu layanan berbasis media sosial, web, video site, aplikasi, atau email marketing.

Ada beberapa alasan kenapa layanan digital harus agen pilih.

Pertama, sebagian prospek sudah menggunakan internet untuk mencari properti. Riset National Association of Realtor (NAR), asosiasi perdagangan real estate di Amerika Serikat, pada 2018 mendapati perubahan besar bagaimana orang mencari informasi penjualan rumah. Pada 1981, 22 persen orang pertama mencari informasi jual rumah dari koran. Pada 2018, pencarian utama ada di internet. Ada 44 persen pembeli yang menggali informasi lewat penjualan properti.

Bahkan, untuk pembeli milenial sudah 99 persen dari mereka yang mencari lewat internet, terutama dari ponsel.

Kedua, untuk konteks Indonesia, tahun lalu ada 175,4 juta pengguna internet. Menurut laporan We Are Social 2019, dari jumlah itu, 98 persen menggunakan internet mobile (ponsel/tablet). Hampir semuanya alias 99 persen gemar menonton video online. Sebagian besar menggunakan akses internet untuk bersosial media. Rata-rata waktu yang dihabiskan bermedia sosial mencapai 3 jam 4 menit.

Ketiga, di saat orang-orang mengurangi interaksi fisik saat ini, maka layanan digital bisa menjadi pilihan utama. Karena tanpa adanya kontak langsung, orang bisa tetap terhubung. Maka, bagaimana menyediakan menu yang interaktif pada layanan digital, bisa mempengaruhi minat pembeli.

Menyajikan listing properti yang Anda miliki secara online adalah hal yang wajib. Jika Anda mampu, silakan membangun situs web pemasaran sendiri. Jika Anda ingin layanan lebih lengkap tapi ringkas, aplikasi seperti Prospeku bisa menjadi andalan.

Lalu bagaimana cara mengoptimalkan layanan seperti itu untuk pemasaran listing Anda?

NAR, dalam risetnya menemukan ada lima kunci yang menjadi harapan para pembeli mencari property secara digital.

Pertama, sebanyak 87 persen pembeli menilai, fitur foto sangat membantu mereka mencari rumah incaran.

Kedua, soal detil informasi diiyakan oleh 85 persen pembeli.

Urusan ketiga adalah soal informasi tata ruang (floor plan) sangat membantu 52 persen pembeli.

Keempat adalah fitur virtual tour, membuat puas 46 persen.

Kelima adalah kontak agen yang jelas, menjadi harapan 42 persen pembeli.