Rumah adalah kebutuhan primer manusia. Namun, tak setiap waktu adalah saat yang tepat untuk jual rumah. Bukan karena orang tak butuh rumah. Namun karena ada hal-hal tertentu yang membuat jual rumah menjadi tak efektif, atau susah lakunya.

Di sisi lain, menjual rumah di waktu yang salah, membuat harganya bisa turun, atau malah jatuh dalam. Karena permintaan (demand) sedang mengecil. Hukum ekonomi jelas menyebutkan jika permintaan berkurang, maka harga akan terkoreksi.

Ada dua karakter yang membuat jual rumah salah waktu jualnya. Pertama, fokus pasar alias orang-orang yang menjadi target, sedang tidak pas untuk membeli rumah. Karena pasar memang sedang tak menilai waktu ini yang tepat untuk membeli rumah. Kedua, orang-orang sedang dilanda masalah lain atau kebutuhan genting yang harus didahulukan. Umumnya, kondisi luar perkiraan sebelumnya. Ada banyak kondisi seperti ini, misalnya bencana alam, pergolakan politik, atau krisis ekonomi.

Agar bisa menjual rumah dengan cepat, dua karakter di atas perlu dihindari. Lalu apa saja waktu yang salah untuk jual rumah?

Saat Lebaran atau hari raya

Memang lebaran sedang banyak orang menerima uang lebih dari Tunjangan Hari Raya (THR). Namun, belum tentu THR ini menjadi pemicu orang tergerak membeli rumah. Karena, orang-orang sedang fokus untuk merayakan lebaran. Karena itu kebutuhan yang sedang mereka galakkan adalah transportasi untuk pulang kampung, atau kebutuhan mudik lebaran.

Di sisi lain, menjelang Lebaran banyak kantor-kantor akan tutup bisa dalam beberapa pekan. Sehingga urusan jual beli, notaris, ke Badan Pertanahan, hingga urusan perbankan akan terganjal karena libur nasional. Akibatnya, jika menjual rumah di waktu seperti ini, urusannya butuh waktu yang lebih lama.

Saat Kenaikan Kelas

Libur sekolah juga bukan berarti masa yang tepat untuk jual rumah. Sebab, pada umumnya orang-orang yang berdaya beli dan memiliki anak, sedang memiliki kebutuhan genting: membayar uang sekolah anak mereka. Uang ini juga tak kecil. Sehingga alokasi dana mereka, tak bisa diganggu untuk membayar uang muka KPR atau bahkan untuk membeli rumah dengan tunai.

Justru saat waktu seperti ini, fokus mereka adalah untuk mendapatkan dana segar demi kebutuhan pendidikan anak. Tak heran di musim seperti ini layanan gadai, pinjaman, atau kredit malah lebih laku. Karena pasar memang sedang fokus pada kebutuhan pendidikan.

Bencana

Saat terjadi bencana, orang jelas tak akan berpikir untuk membeli rumah. Keselamatan jiwa tentu saat bencana terjadi jelas lebih penting. Apalagi jika bencana itu adalah bencana alam. Maka, pasar akan menghindari rumah-rumah yang berada di zona bahaya bencana alam. Fokus pasar sedang mengarah pada bagaimana menjaga keselamatan jiwa dan mitigasi dari bencana alam.

Jika bencana berupa wabah ataupun pandemi, orang-orang tentu akan fokus menjaga kesehatan mereka. Sehingga proses jual beli jelas tak akan optimal. Melakukan jual beli seperti pada umumnya rawan untuk menyebarkan penyakit.

Krisis atau Pergolakan Politik

Krisis ekonomi dan pergolakan politik biasanya bertautan. Keduanya bisa saling menyebabkan. Saat krisis ekonomi dan politik pada 1998, harga rumah pada jatuh. Jelas saat harga rumah jatuh tak cocok untuk menjual rumah. Saat krisis ekonomi 2008, juga masa yang rugi untuk jual rumah. Mengingat krisis 2008 sendiri adalah krisis yang ditimbulkan oleh kredit perumahan yang macet di Amerika Serikat, maka saat itu banyak rumah dilego dengan murah. Saat itu, sektor properti sedang memasuki fase resesi.