Lalu, bisakah rumah yang masih KPR dijual?

Tentu saja bisa. Rumah yang masih KPR pada dasarnya adalah rumah nasabah KPR (debitur), bukan rumah milik bank (kreditur). Hanya saja, karena debitur membeli rumah itu dengan uang dari kreditur, maka kreditur menahan sertipikatnya selama masa cicilan. Jika nanti cicilan sudah lunas, maka sertipikat itu dikembalikan kepada debitur.

Terus, bagaimana cara jual rumah yang masih KPR?

Ada beberapa cara yang bisa ditempuh jika Anda ingin menjual rumah yang masih KPR. Pertama, melunasi KPR beserta biaya pinaltinya. Jika sisa pokok utang KPR kecil, lebih baik Anda lunasi. Atau jika dana Anda cukup, maka melunasinya akan mempermudah proses jual beli. Dengan pelunasan ini, maka sertipikat ada di tangan Anda. Sehingga sudah sepenuhnya milik Anda. Maka Anda dengan bebas menjualnya dengan harga sesuai kehendaknya.

Kedua, jual rumah yang masih KPR, baru melunasinya dengan hasil penjualan itu. Cara ini bisa ditempuh tanpa harus memberitahukan ke bank. Tapi peminat rumah harus Anda beritahu jika rumah masih dalam KPR. Sehingga, mereka paham jika sertipikatnya masih di tangan bank. Selain itu, pembeli juga baru menerima sertipikat jika proses bank KPR Anda selesai.

Untuk menempuh cara kedua ini, Anda harus menghitung dulu berapa sisa pokok KPR yang belum lunas, beserta biaya pinalti. Harga rumah tentu lebih besar dari sisa pokok dan biaya pinalti. Sebab, sertipikat rumah Anda bisa keluar dari bank jika dua biaya itu sudah lunas. Atau anda bisa menggunakan jasa penilai (appraisal) untuk menentukan berapa harga rumah Anda. Pastikan harganya lebih besar dari harga sisa pokok pinjaman KPR Anda.

Jika harga jual sudah ketemu, baru bisa Anda tawarkan. Bersyukur jika Anda menemukan pembeli yang membeli dengan tunai. Sebab proses jual beli akan lebih cepat. Namun jika pembeli rumah Anda juga membelinya dengan cara KPR juga, maka prosesnya akan lebih lama. Sebab, Anda harus menunggu proses KPR pembeli selesai. Tentu ini akan memakan waktu. Jika bank tersebut menolak mengucurkan KPR untuk pembeli rumah Anda, maka jual beli juga batal.

Cara lain adalah over kredit alias pemindahtanganan beban KPR Anda. Jika pembeli Anda memiliki bank KPR sendiri, maka proses over kredit akan memakan waktu. Namun jika pembeli rumah Anda banknya sama dengan bank KPR Anda, maka proses jual beli akan lebih cepat.

Namun sebenarnya, over kredit bukan berarti pembeli menggantikan sisa beban cicilan KPR Anda di bank yang sama. Pembeli tetap akan ditulis sebagai pemilik baru rumah itu. Artinya, akan perlu balik nama sertipikat. Pembeli juga akan didaftar sebagai debitur baru. Konsekuensinya, maka besaran cicilan akan berbeda dari besaran cicilan Anda. Bisa lebih besar, bisa pula lebih kecil. Tergantung harga rumah yang disepakati, besaran bunga, dan besaran pokok KPR yang diambil pembeli tersebut.